{"id":26299,"date":"2025-08-29T08:26:05","date_gmt":"2025-08-29T01:26:05","guid":{"rendered":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/?p=26299"},"modified":"2025-08-29T08:26:07","modified_gmt":"2025-08-29T01:26:07","slug":"lulus-s2-dan-terbitkan-dongeng-mepum-sedimop-ini-dia-sosok-andir-meku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/2025\/08\/29\/lulus-s2-dan-terbitkan-dongeng-mepum-sedimop-ini-dia-sosok-andir-meku\/","title":{"rendered":"Lulus S2 dan Terbitkan \u201cDongeng Mepum Sedimop\u201d, Ini Dia Sosok Andir Meku"},"content":{"rendered":"\n<p>Dongeng ibarat jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan warisan leluhur. Melalui dongeng, nilai-nilai budaya, adat istiadat, kepercayaan, dan pandangan hidup suatu masyarakat bisa tetap hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagi masyarakat Papua, dongeng tidak hanya cerita, tetapi berisi sejarah dan ajaran hidup,\u201d ujar Andir Meku, alumnus S2 Magister Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS, bari-baru ini di Gedung Pascasrjana UPGRIS.<\/p>\n\n\n\n<p>Atas dasar itulah, Andir Meku melakukan pendokumentasian dongeng-dongeng di daerah asalnya melalui penerbitan buku Dongeng Mepum Sedimop (2025).<\/p>\n\n\n\n<p>Buku dongeng tersebut dihimpun berdasarkan dongeng lokal di daerah Papua Pegunungan. Buku tersebut dikerjakan dan diedit bersama dengan Prof. Harjito dan Dr. Nazla Maharani Umaya, M.Hum.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDongeng ini bisa disebut potret pengetahuan, pandangan dan nilai-nilai serta praktik kehidupan masyarakat lokal di distrik Okbab, Suku Ketengban, kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Untuk iti harus ada pendokumentasian dengan baik,\u201d terang pria kelahiran Pedam, 07 Mei 1990,tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Diceritakan, proses pengumpulan dongeng tersebut berdasarkan aturan pendokumentasian akademik. \u201cNarasumbernya adalah seorang pendongang dan penutur asli bahasa Ketengban, yang bernama soleman Malo, jadi secara otentisitas bisa terjaga\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya itu, naskah yang sudah ditulis ulang tersebut kemudian divalidasi oleh tokoh masyarakat yang memiliki kapasitas dan pengetahuan seputar budaya lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProses penerjemahan ini divalidasi oleh Karel malo, tokoh pendidikan di wilayah suku Ketengban,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Pascasarjana UPGRIS, Prof. Dr. Harjito, M.Hum, menyebut, buku tersebut tidak hanya disajikan dalam bahasa lokal, tetapi diterjemahkan ke bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDongeng lokal adalah kekayaan budaya yang harus terdokumentasikan dengan baik, agar nilai-nilai lokal di san juga ikut dipahami oleh masyarakt umum,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditambahkan, buku ini diharapkan jadi dokumenbudaya yang kelak dibaca dan dipahami oleh generasi muda di Papua Pegunungan. \u201cSaya berharap buku ini mampu membangun sikap humanis pembaca.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dongeng ibarat jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan warisan leluhur. Melalui dongeng, nilai-nilai budaya, adat istiadat, kepercayaan, dan pandangan hidup suatu masyarakat bisa tetap hidup. \u201cBagi masyarakat Papua, dongeng tidak hanya cerita, tetapi berisi sejarah dan ajaran hidup,\u201d ujar Andir Meku, alumnus S2 Magister Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS, bari-baru ini di Gedung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":26300,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","footnotes":""},"categories":[41,120,42],"tags":[],"class_list":["post-26299","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-academic","category-highlight","category-kegiatanmahasiswa"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/DSC07161-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26299","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26299"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26299\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26301,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26299\/revisions\/26301"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26300"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26299"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26299"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26299"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}