{"id":27008,"date":"2026-02-20T11:17:42","date_gmt":"2026-02-20T04:17:42","guid":{"rendered":"http:\/\/news.upgris.ac.id\/?p=27008"},"modified":"2026-02-20T11:25:57","modified_gmt":"2026-02-20T04:25:57","slug":"mahasiswa-kkn-upgis-gelar-program-literasi-untuk-membangun-generasi-cerdas-dan-berkarakter-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/2026\/02\/20\/mahasiswa-kkn-upgis-gelar-program-literasi-untuk-membangun-generasi-cerdas-dan-berkarakter-2\/","title":{"rendered":"KKN UPGRIS KELOMPOK 22 BORONG JUARA DI EXPO KKN UNGARAN BARAT, GUMMY JAMU DAN TARI JARANAN HARUMKAN NAMA DUSUN KEJI"},"content":{"rendered":"\n<p>Semangat inovasi dan pelestarian budaya ditunjukkan secara nyata oleh mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 22 Desa Keji dalam ajang Expo KKN UPGRIS Kecamatan Ungaran Barat 2026. Mengusung tema \u201cJamu Tradisional Berbasis Inovasi Lokal\u201d, Kelompok 22 berhasil mencuri perhatian pengunjung sekaligus menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Lomba Produk Inovasi melalui produk Gummy Jamu serta Juara 1 Lomba Tari Tradisional \u201cJaranan\u201d yang dibawakan oleh siswa-siswi SD Negeri 01 Keji.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Sejak awal kegiatan, stan Kelompok 22 tampil mencolok dengan konsep perpaduan tradisional dan modern. Nuansa etnik terlihat dari dekorasi bernuansa jamu tradisional, ornamen bambu, kain batik, serta penataan produk yang dikemas secara estetik dan informatif. Tidak sekadar menjadi tempat memamerkan produk, stan tersebut juga difungsikan sebagai ruang edukasi yang mengenalkan kembali pentingnya pelestarian budaya sekaligus pengembangan potensi ekonomi lokal berbasis kearifan desa.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Produk unggulan yang menjadi sorotan utama dewan juri dan pengunjung adalah Gummy Jamu, inovasi olahan jamu tradisional dalam bentuk permen kenyal yang lebih praktis dan ramah di lidah generasi muda. Inovasi ini berangkat dari kegelisahan mahasiswa melihat rendahnya minat anak muda terhadap jamu karena identik dengan rasa pahit dan penyajian yang kurang praktis. Melalui sentuhan kreativitas, jamu diolah menjadi produk modern tanpa menghilangkan manfaat kesehatannya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Gummy Jamu dikemas dengan tampilan menarik, cita rasa yang lebih bersahabat, serta tetap mempertahankan khasiat bahan herbal tradisional. Inovasi ini dinilai tidak hanya unik, tetapi juga memiliki potensi pasar yang menjanjikan apabila dikembangkan secara berkelanjutan.<br>Salah satu dewan juri memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, Gummy Jamu merupakan contoh konkret bagaimana warisan budaya dapat diolah menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan masa kini.<br><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProduk Gummy Jamu ini sangat inovatif karena mampu mengemas warisan tradisional menjadi produk yang modern dan marketable. Konsepnya jelas, segmentasinya tepat untuk generasi muda, dan tetap mempertahankan nilai kesehatan dari jamu itu sendiri. Ini bukan sekadar produk lomba, tetapi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan,\u201d ujarnya.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Selain produk utama yang dilombakan, stan Kelompok 22 juga menyajikan beragam produk pendukung seperti jamu gendong, risol mayop (mayones dan smoked beef), risol cokelat, lumpia, serta getuk pasir atau getuk goreng khas tradisional. Variasi produk tersebut menunjukkan kreativitas mahasiswa dalam mengolah potensi kuliner lokal Dusun Keji menjadi peluang usaha yang lebih menarik dan bernilai ekonomi.<br><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya unggul dalam bidang inovasi produk, Kelompok 22 juga berhasil mengangkat potensi budaya lokal melalui penampilan Tari Jaranan yang dibawakan oleh siswa-siswi SD Negeri 01 Keji. Dengan gerakan yang kompak, penuh semangat, serta balutan kostum yang memukau, penampilan tersebut sukses memikat perhatian penonton dan dewan juri hingga akhirnya meraih Juara 1 Lomba Tari Tradisional.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Penampilan tari ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya daerah. Tari Jaranan yang ditampilkan mencerminkan identitas budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pembinaan dan latihan bersama mahasiswa KKN, anak-anak tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga memahami nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Keberhasilan meraih dua gelar juara sekaligus tidak terlepas dari sinergi yang kuat antara mahasiswa KKN dan masyarakat Desa Keji. Proses produksi Gummy Jamu, persiapan stan, hingga latihan tari dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak. Semangat gotong royong dan kebersamaan menjadi fondasi utama keberhasilan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Ketua Panitia Expo KKN, Rizqi, turut memberikan apresiasi atas capaian Kelompok 22. Ia menyampaikan bahwa expo bukan hanya ajang kompetisi, melainkan wadah untuk menampilkan hasil nyata pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><br>\u201cExpo KKN ini menjadi ruang untuk menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa. Kelompok 22 berhasil menghadirkan inovasi produk yang kreatif sekaligus mengangkat budaya lokal melalui tari Jaranan. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat mampu menghasilkan karya yang membanggakan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Prestasi yang diraih Kelompok 22 tidak hanya mengharumkan nama kelompok, tetapi juga membawa kebanggaan bagi Dusun Keji dan Kecamatan Ungaran Barat. Lebih dari sekadar kemenangan, capaian ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan potensi lokal dengan pendekatan inovatif dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Melalui tema jamu tradisional yang dikemas secara modern, mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 22 ingin menegaskan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang usang atau tertinggal oleh zaman. Justru dengan kreativitas dan inovasi, warisan lokal dapat menjadi produk unggulan yang relevan, kompetitif, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Dari stan jamu tradisional hingga panggung tari Jaranan, dari inovasi Gummy Jamu hingga raihan dua gelar juara, Kelompok 22 membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui karya nyata, prestasi, dan kebanggaan bersama. Ketika tradisi dan inovasi berjalan beriringan, potensi desa pun mampu bersinar lebih terang dan memberikan inspirasi bagi banyak pihak<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semangat inovasi dan pelestarian budaya ditunjukkan secara nyata oleh mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 22 Desa Keji dalam ajang Expo KKN UPGRIS Kecamatan Ungaran Barat 2026. Mengusung tema \u201cJamu Tradisional Berbasis Inovasi Lokal\u201d, Kelompok 22 berhasil mencuri perhatian pengunjung sekaligus menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Lomba Produk Inovasi melalui produk Gummy [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":27011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"none","_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","footnotes":""},"categories":[41,120,42],"tags":[],"class_list":["post-27008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-academic","category-highlight","category-kegiatanmahasiswa"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-20-at-11.16.41.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27008"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27008\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27016,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27008\/revisions\/27016"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/news.upgris.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}