Kongres Mahasiswa UPGRIS 2025, Rektor Tekankan Kampus sebagai Ruang Pembelajaran Demokrasi

Kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga wahana pembelajaran demokrasi yang nyata bagi mahasiswa. Seluruh tahapan demokrasi dijalani mahasiswa secara langsung, mulai dari proses pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hingga mekanisme pertanggungjawaban kepemimpinan melalui Kongres Mahasiswa.

Dalam konteks inilah, mahasiswa ditempa untuk memahami makna demokrasi secara utuh, tidak sekadar prosedural, tetapi juga substansial. Rektor Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (UPGRIS), Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan hal tersebut dalam sambutannya pada Kongres Mahasiswa 2025 yang diselenggarakan pada 2 Januari 2026 di Gedung Pusat lantai 7.

Kongres Mahasiswa kali ini mengusung tema “Memperkuat Kapasitas Mahasiswa melalui Sinergi Kelembagaan, Dialog yang Berorientasi Sosial, dan Langkah Progresif untuk Meningkatkan Kualitas Organisasi.”

Menurut Sri Suciati, kongres mahasiswa dapat dimaknai sebagai simulasi kepemimpinan masa depan bangsa. Ia menyampaikan bahwa para pemimpin nasional juga menjalani proses demokrasi serupa, meskipun berada pada level yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan kongres sebagai ruang dialog yang sehat dan konstruktif.

“Kongres mahasiswa adalah simulasi masa depan bangsa. Pimpinan nasional kita juga melakukan hal yang sama. Bedanya ini tingkat mahasiswa. Sebagai simulasi, kedepankan dialog di atas kepentingan pribadi,” ujar Sri Suciati.

Lebih lanjut, Rektor UPGRIS mengingatkan bahwa mahasiswa akan dihadapkan pada tantangan zaman yang semakin kompleks. Perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat serta perkembangan teknologi yang masif turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap demokrasi. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk berpikir lebih luas dan adaptif.

Ia pun menekankan agar mahasiswa tidak terjebak pada perdebatan teknis semata. Kongres diharapkan mampu menghasilkan gagasan strategis yang berdampak nyata, baik bagi kehidupan kampus maupun masyarakat secara lebih luas. Selain itu, Sri Suciati berharap pelaksanaan kongres berjalan dengan tertib serta melahirkan rekomendasi yang memberikan manfaat konkret bagi mahasiswa.

“Saran saya, jangan terjebak dalam pembahasan teknis. Mahasiswa harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Kongres harus berjalan tertib, serta menghasilkan pemikiran yang memberikan dampak positif bagi kampus dan mahasiswa,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden BEM UPGRIS periode 2025, M. Syauki Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa kongres mahasiswa merupakan cerminan kedewasaan dalam berorganisasi. Forum ini menjadi ruang bagi seluruh mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus menempatkan kepentingan kolektif di atas kepentingan kelompok maupun golongan tertentu.

Ia menilai kongres harus memiliki makna moral dan ideologis yang kuat. Evaluasi kinerja kepemimpinan selama satu periode perlu dilakukan secara objektif, disertai rekomendasi yang bermanfaat bagi seluruh mahasiswa. Menurutnya, dinamika dalam kongres adalah hal yang wajar, namun harus tetap mengedepankan semangat musyawarah dan tanggung jawab bersama.

Kongres Mahasiswa 2025 ini dihadiri oleh seluruh perwakilan organisasi dan lembaga kemahasiswaan, baik di tingkat universitas, fakultas, maupun program studi, sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat tata kelola organisasi mahasiswa di lingkungan UPGRIS.(*)

More From Author

IKU Jadi Bukti Kinerja, UPGRIS Diganjar Anugerah Diktisaintek 2025

Dukung Hilirisasi Riset, YPLP PT PGRI Semarang Bangun Laboratorium Terpadu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *