Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) menegaskan kembali komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya berbekal ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kesiapan kerja yang mumpuni. Komitmen ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah aksi strategis yang terbukti dengan capaian prestisius, menempatkan UPGRIS di Top 10 kampus swasta Asia Tenggara dalam kategori kesiapan kerja lulusan.
Pencapaian ini menjadi pemicu bagi UPGRIS untuk semakin mengintensifkan program-program yang menjembatani dunia akademik dengan dunia industri. Upaya serius ini diwujudkan melalui serangkaian program terstruktur.
“Kami memandang kesiapan lulusan sebagai prioritas utama. Mulai dari program magang yang terarah, inisiatif persiapan kerja, hingga peningkatan kualitas diri (self-improvement)—semua dirancang untuk memastikan alumni kami memiliki koneksi kuat dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja,” tegas Dr. Muniroh Munawar, S.Pi., M.Pd., dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Gedung GP 2.
FGD yang digagas oleh Pusat Karir, PPL, dan Pemagangan LPP UPGRIS ini mengangkat topik krusial: “Pengoptimalan Magang Berdampak bersama PHRD, PMSM, BBGTK Jawa Tengah.” Acara tersebut mempertemukan seluruh Ketua Program Studi dengan perwakilan mitra strategis dari industri dan lembaga pelatihan.
Muniroh Munawar menyoroti tingginya antusiasme mahasiswa, dengan 2.258 calon mahasiswa magang pada periode ini. Angka ini menuntut adanya perluasan dan peningkatan kualitas mitra kerja untuk menjamin keterserapan magang yang sesuai dengan bidang ilmu.
“Penempatan magang harus sesuai bidang. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak-pihak kompeten seperti yang hadir hari ini sangat penting untuk menyamakan persepsi, memastikan bahwa lokasi magang memberikan manfaat maksimal dan relevan bagi mahasiswa,” tambahnya.
Di sisi internal, Dr. Prasetyo, M.Pd., Ketua Pusat Karier, PPL, dan Pemagangan, menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. “Kami terus mencari terobosan agar program yang disiapkan benar-benar berdampak. Misalnya, program job fair harus ditingkatkan agar benar-benar mampu menyerap seluruh tenaga kerja alumni secara optimal,” ujarnya, menggarisbawahi komitmen untuk perbaikan terus-menerus.
Diskusi semakin menarik dengan pandangan dari perwakilan industri yang menekankan pentingnya sinergi antara lingkungan akademik dan industri.
Irwan Sudaryanto, S.Sos., M.M., dari Perhimpunan HRD Jawa Tengah, mendesak adanya penyegaran mindset di kalangan kampus. Ia menyoroti perbedaan mendasar dalam pola pikir antara lembaga pendidikan dan industri. “Kampus harus menyadari bahwa output lulusannya harus mampu memenuhi kebutuhan stakeholder. Tujuan akhirnya adalah bagaimana lulusan benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja,” jelasnya.
Irwan juga menyoroti masalah relasi. Permintaan magang di industri sebetulnya tinggi, namun kerap terhambat karena kurangnya komunikasi dan relasi yang terjalin. “Bagaimana mungkin perusahaan mau menerima mahasiswa magang jika tidak ada saling kenal antara kedua pihak?”
Senada, Manikowati, M.Pd., dari BBGTK Provinsi Jawa Tengah, menekankan pentingnya kesesuaian antara tujuan magang dengan kompetensi yang sedang dipersiapkan. Di BBGTK, misalnya, penempatan diprioritaskan bagi mahasiswa dari rumpun pendidikan dan teknologi informasi, lengkap dengan pemetaan kompetensi agar penempatan tidak dilakukan secara “asal”.
Sementara itu, Drs. Budiharjo, M.M., Ketua Departemen Hukum dan Hubungan Industrial PMSM, melihat perlunya titik temu antara kebutuhan industri dengan harapan kampus. Ia berpendapat, di dunia pendidikan, mindset bahwa magang hanyalah pemenuhan kewajiban akademik semata harus diubah. “Sesungguhnya, magang adalah proyeksi nyata atas kemampuan yang diperoleh di ranah kampus,” pungkasnya.
FGD ini menjadi penanda kuat bahwa UPGRIS tidak bergerak sendirian, melainkan merangkul industri sebagai mitra strategis dalam misi mencetak tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan global.
