Upaya merumuskan strategi pembelajaran bahasa Inggris yang efektif bagi generasi muda memerlukan pemahaman mendalam tentang karakteristik peserta didik. Kesesuaian pendekatan yang dipilih hanya dapat dicapai jika pendidik mampu menelusuri bagaimana anak muda belajar, berekspresi, dan merespons rangsangan pedagogis.
Oleh karena itu, pendalaman karakter peserta didik menjadi langkah penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses menentukan formula pembelajaran yang tepat.
Dalam paparannya, Dr. Gina Sylvia S. Gaoat, Associate Professor 4 dari MMSU Filipina, menekankan bahwa pengembangan materi ajar harus memperhatikan aspek-aspek khas yang dimiliki peserta didik muda.
Menurutnya, materi pembelajaran yang baik perlu mempertimbangkan kemampuan kinestetik, daya imajinasi, pemicu rasa ingin tahu, serta aktivitas yang melibatkan permainan, gerakan, dan rangsangan panca indera.
Ia menjelaskan bahwa anak muda memiliki kecenderungan belajar melalui aktivitas fisik dan eksplorasi kreatif yang merangsang fokus serta imajinasi mereka. Karena itu, pendidik tidak seharusnya hanya mengandalkan buku teks, tetapi juga memasukkan elemen gerak dan variasi pembelajaran lainnya.
Pandangan tersebut disampaikan dalam acara “International Expert Talks: Perspectives on Language, Culture, and Pedagogy”, yang digelar pada 1 Desember 2025 oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UPGRIS bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPGRIS di Kampus IV.
Dalam forum ilmiah itu, Dr. Gina menjadi satu dari empat pakar internasional dan nasional yang membahas perspektif terkini terkait bahasa, budaya, dan pedagogi.
Selain Dr. Gina, turut hadir Dr. Jay Ar Cristobal dari MMSU Filipina yang membawakan materi bertajuk “Language and Culture in English Language Teaching”. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa guru harus memahami perkembangan bahasa masa kini agar pembelajaran tetap relevan.
Dr. Cristobal menegaskan bahwa sekalipun bahasa baku penting diajarkan, pendidik juga perlu mengakui dan menghargai gaya berbahasa khas generasi Z. Penggunaan unsur bahasa mereka dalam kelas diyakininya dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan mudah diterima.
Dua pakar dari UPGRIS juga memberikan kontribusi penting dalam diskusi tersebut. Dr. Dyah Nugrahani, M.Hum, membawakan materi berjudul “From Jaka Tarub To Jeong Jae-Hyun: Reimagination as both a Cultural and Pedagogical Practice — A Case Study of Indonesian Folktale Transadaptation into Korean Drama Format”. Ia menyoroti urgensi mengimajinasikan ulang karya budaya lokal agar tetap hidup, kontekstual, dan dapat diapresiasi generasi digital yang memiliki orientasi global.
Pemateri berikutnya, Dr. Dias Andris Susanto, M.Pd., melalui pembahasannya tentang “Critical Discourse Analysis of English Textbooks for Primary Schools in Indonesia: EYL Context”.
Dias menegaskan pentingnya menanamkan nilai multikultural serta unsur budaya lokal dalam buku pelajaran. Ia juga mengingatkan agar ilustrasi maupun narasi dalam buku teks tidak memuat stereotip sosial maupun gender.
Kepala KUI UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum, menyatakan bahwa forum seperti ini berperan besar dalam memperkaya wawasan mahasiswa, terutama yang tengah menekuni disiplin ilmu pendidikan bahasa Inggris.
Sementara itu, Dekan FPBS UPGRIS, Siti Musarokah, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan tersebut sebagai momen penting untuk meningkatkan kapasitas akademik sekaligus memperluas perspektif global mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa bahasa, budaya, dan pedagogi merupakan tiga aspek fundamental dalam pembelajaran bahasa Inggris, dan ketiganya mendapat sorotan mendalam dalam forum ini.
